Ditulis tgl : 30.04.08 / 1pm
Oleh : Dilara Larasati
Menemukan perbedaan dalam keutamaan amal, berlomba menjadi yang terbaik dalam agama, mampu mengantar manusia pada derajat yang mulia.
Dalam Bahasa Indonesia, kita mengenalnya sebagai diferensiasi yang diambil dari bahasa Inggris differentiate. Artinya, mencari dan mengadakan perbedaan. Biasanya, kata ini lbeih banyak digunakan dalam bahasa bisnis atau manajemen, tapi sesungguhnya dilahan manapun, kita wajib mengadakan perbedaan agar lebih mampu bersaing dari keunggulan yang lain. Termasuk dalam hal ibadah dan melaksanakan agama. Tapi perbedaan apa yang dibolehkan dan mampu memuliakan?
Mari kita tengok kembali sosok mulia Abdullah bin Mas’ud dalam sejarah Islam di awal perjalanannya. Dari segi fisik, sungguh, jika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini, niscaya ia akan menjadi golongan masyarakat kelas dua. Karena kita lebih menilai manusia dari keindahan fisiknya, kekayaan hartanya dan kemuliaan keturunannya, tanpa menilik lebih jauh kualitas iman dan amalnya. Ibnu Mas’ud adalah seorang lelaki bertubuh kecil dan pendek, bahkan saking kecilnya, ada yang meriwayatkan ketika Ibnu Mas’ud berdiri tegak tingginya sama dengan Umar bin Khaththab saat duduk santai. Badannya kurus, kakinya kecil dengan betis yang tipis dan perutnya buncit.
Tentu, secara kemuliaan strata sosial ia tak akan pernah mampu bersaing dengan sahabat Abu Bakar Shiddiq yang bertempat sangat tinggi di kalangan kaumnya. Ibnu Mas’ud juga tak akan pernah bersaing dengan Ali bin Abi Thalib dalam hal kecakapan fisik. Begitu pula dalam hal kekuatan dan tenaga besar. Ibnu Mas’ud sama sekali bukan tandingan Umar bin Khaththab. Tapi dengan segala hal diatas, tak lantas membuat Ibnu Mas’ud tak menemukan celah untuk mendapatkan kemuliaan.
Abdullah ibnu Mas’ud adalah orang yang teliti, melakukan segala hal secara pelan dan hati-hati. Ia termasuk satu diantara sedikit sahabat Nabi yang ilmunya melimpah ruah. Ibnu Numair pernah meriwayatkan tentang kemuliaan Abdullah ibnu Mas’ud di tengah umat Islam. Rasulullah SAW mendaftar empat nama sebagai tempat bertanya dan mengambil ayat-ayat Al-Quran. Nama-nama itu adalah Abdullah ibnu Mas’ud, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Salim, seorang budak dari Abu Hudzaifah. Sejarah juga merekam, bahwa Abdullah ibnu Mas’ud tercatat sebagai orang kedua setelah Rasulullah yang membaca dengan keras ayat-ayat Al-Quran di tengah-tengah Ka’bah yang masih dipenuhi dengan berhala.
Demikian mulia sosok Abdullah ibnu Mas’ud sehingga suatu ketika Rasulullah SAW pernah bersabda, “Aku ridha atas umatku terhadap apa yang diridhai Ibnu Mas’ud. Dan aku marah atas sesuatu yang membuat marah Ibnu Mas’ud”. (HR. Thabrani)
Apa yang membuatnya demikian mulia, di tengah umat Islam, disisi Rasulullah dan didepan Allah? Jawabannya adalah ilmu dan kekuatan Ibnu Mas’ud mempelajari Al-Quran dengan tafsir yang benar. Dengan itu pula Abdullah ibnu Mas’ud diantarkan ke tempat yang tinggi dan penuh kemuliaan.
Selain Ibnu Mas’ud, tengok pula sosok Bilal bin Rabah, muadzin Rasulullah yang tercinta. Ia datang dari kalangan budak yang dipandang tak memiliki harga. Tubuhnya tinggi, kurus dan hitam legam. Tapi dalam hadits yang masyhur disebutkan bahwa Rasulullah mendengar suara terompah Bilal bin Rabah didalam Surga. Hal itu pula yang ditanyakan Rasulullah pada Bilal, amalan apa yang membuatnya masuk surga lebih dulu dari Rasulullah.
“Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku selalu berwudhu dan mendirikan shalat sunnah dua rakaat setelahnya”, ujar Bilal menjelaskan. Ia telah menemukan jenis perbedaan yang membuatnya menjadi mulia. Bilal telah menemukan amalan, yang tidak biasa dan mengantarnya menjadi luar biasa.
Kisah yang lebih spektakuler datang dari sosok Abu Hurairah. Ia masuk dan menyatakan syahadat di tahun ke-20 dari masa kenabian. Artinya, ia ber-islam di ujung usia Rasulullah. Perang-perang besar, hampir tak ada lagi. Artinya lowongan untuk mejadi pahlawan perang hampir tertutup kemungkinan. Begitu pula dengan spesialisasi amal-amal para sahabat utama, semuanya hampir telah melakukan segala hal. Begitu pula dengan kemelimpahan harta, Abu Hurairah tak pernah memilikinya. Ia adalah satu dari sekian sahabat Nabi yang termasuk dalam golongan papa, ahlu shuffah. Maka untuk berbuat dan beramal dengan harta seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Abdurrahman bin Auf, jauh dari jangkauannya.
Tapi Abu Hurairah menemukan caranya untuk menjadi mulia. Meski Abu Hurairah hanya hidup bersama Nabi tak kurang hanya tiga atau empat tahun saja, ia bertekad menjaga agama ini dengan cara yang tidak biasa, yakni menjadi bayang-bayang Nabi. Kemana pun Nabi pergi, Abu Hurairah selalu tampak di sisi beliau, kecuali di dua tempat; jamban dan ranjang.
Dari masa yang sebentar itu, tiga tahun saja, berkat Abu Hurairah hari ini umat islam di seluruh dunia lebih paham tentang karakter Rasulullah. Jika kita perhatikan, sebagian besar hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bentuknya seperti laporan pandangan mata. Tentang cara berjalan Nabi, tentang cara makan Nabi, tentang akhlak Nabi, tentang warna dan corak baju yang dikenakan Nabi. Senyum, sorot mata, cara bicara Rasulullah, semua tergambar dari hadits-hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah. Jika dihitung, Abu Hurairah adalah sahabat yang mengumpulkan hadits Nabi melebihi sahabat-sahabat yang lebih dulu ber-Islam dan lebih lama hidup bersama Rasulullah. Kurang lebih ada sekitar 5374 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Dari jumlah diatas, 446 diantaranya ditakhrij oleh Imam Bukhori.
Abu Hurairah telah menemukan caranya sendiri mengabadikan dan menjaga agama ini. Dan dengan itu pula namanya tercatat dengan tinta emas dalam sejarah umat islam sampai kapan juga. Kini pertanyaan yang tersisa adalah, apakah kita sudah mulai mencari diferensiasi dalam hal amal dan perbuatan, atau ilmu dan keahlian dalam agama ini, sehingga kelak mengundang Allah untuk menurunkan kemuliaan?
Tentu saja spektrum diferensiasi amalan sangat luas dan lebar. Tak perlu yang bersifat berat dan besar, jika tak mampu melakukan. Banyak amalan-amalan yang cukup ringan, tapi jika dilakukan dengan konsistensi tinggi dan ketulusan, maka ia akan menjadi amal pilihan. Bilal bin Rabah memilih berwudhu setiap kali berhadats, lalu mendirikan shalat sunnah dua rakaat. Sepintas nampak terasa ringan, tapi bayangkan jika hal tersebut dilakukan seumur hidup dan hanya dengan mengharap ridha Allah. Tentu bukan masalah mudah.
Uniknya agama Islam ini adalah, sepanjang sejarahnya selalu melahirkan sosok-sosok istimewa yang luar biasa, baik di masa lalu atau masa yang lebih kontemporer. Ladang amal tak pernah kering untuk dipanen. Tinggal bagaimana kita menemukan cara dan jenis amal apa yang akan kita jadikan hujjah kelak di hadapan Allah SWT.
Ada seorang yang sangat sederhana, dizaman ini dan tak jauh dari kita. Ia menolak untuk disebut namanya, dengan alasan menjaga rasa hati. Ia punya amalan yang kedengarannya sangat ringan, tapi ternyata begitu berat ketika dilaksanakan. Kini ia belajar mengamalkan hidup tanpa keluhan. Sebisa mungkin ia menahan diri. Lidah dan hatinya dari keluhan tentang apa saja.
Ternyata memang tak mudah untuk tidak mengeluh. Berpuluh-puluh keluhan setiap hari kita ucapkan. Tentang jalanan yang macet total. Tentang cuaca yang panas terik. Tentang masakan yang terlalu asin. Bahkan tentang letak benda yang tak sesuai dengan keinginan hati kita. Kita terlalu banyak mengeluh dan lupa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan.
Sekali lagi, mari kita tanyakan pada diri sendiri, jenis amalan apa yang akan menjadi unggulan kita. Jika sudah menemukan, maka perlu konsistensi dan ketulusan yang tak pernah pudar. Jika belum menemukan, mengapa tidak mencarinya dari sekarang?
Sumber : Majalah Sabili No. 20 Th. XV 10 Rabiul Akhir 1429
Cetak artikel ini
Cetak artikel ini
Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu
(QS. Al-Mulk : 19)
- Kategori :
- Taushiah
» Comments RSS
Tidak ada komentar
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]