Minggu, 09 Februari 2014

Perang Syam, Telah Ditakdirkan

Webmaster17.29 0 comments
Perang Suriah
Tahukah anda, mengapa banyak umat Islam berbondong-bondong mendedikasikan diri, jiwa dan hartanya demi sebuah negeri yang tengah berkecamuk seperti Suriah? karena ternyata Perang Syam Telah Ditakdirkan
Apa motifnya?
Negeri Syria, atau Suriah atau dalam literatur Islam disebut sebagai Negeri Syam memang mempunyai sejarah, bukan hanya bagi umat Islam, tetapi juga Kristen (Eropa) dan Yahudi (Israel).
Bagi umat Islam, Syam adalah bumi penuh berkah. Di sana tempat para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah.
Di sana, Nabi Muhammad saw diperjalankan, dan dimikrajkan ke Sidratil Muntaha. Bagi umat Kristiani, wilayah Syam, dahulu adalah bagian dari imperium Romawi Timur, Bizantium. Sementara bagi umat Yahudi, Syam juga diklaim menjadi tempat suci mereka, dimana Haikal Sulaiman berada di sana.
Bisyârah jatuhnya Syam ke tangan kaum Muslim ditunjukkan oleh Allah sejak Nabi Muhammad saw dilahirkan. Saat Nabi lahir, cahaya terpancar mengiringi kelahirannya. Cahaya itu menerangi istana-istana Syam.
Peristiwa Isra’ dan Mikraj Nabi saw dari Masjidil Haram, di Makkah, ke Masjid al-Aqsa, di Palestina, serta ditunjuknya Nabi saw untuk menjadi imam para Nabi dan Rasul sebelumnya di Masjid al-Aqsa juga menguatkan Bisyârah itu. Setelah itu, Nabi pun berulangkali menegaskan, “Uqru dar al-Islam bi as-Syam (Pusat negara Islam itu ada di Syam).”
Perang Salib Modern
Padahal saat itu, wilayah Syam merupakan pusat kekuasaan Romawi Timur, Bizantium. Syam pun belum ditaklukkan oleh kaum Muslim semasa hidup Nabi saw. Setelah Nabi mengirim surat kepada Heraklius pada tahun 6 H, maka upaya pertama kali yang dilakukan oleh Nabi saw untuk menaklukkan wilayah itu dimulai pada tahun 10 H, saat Perang Mu’tah.
Dalam peperangan ini, Khalid bin Walid muncul sebagai pahlawan, sekaligus membuktikan kebenaran sabda Nabi saw. Setelah itu, sejarah kepahlawan Khalid pun ditorehkan dalam sejarah penaklukan Syam, saat Perang Yarmuk, penaklukan Damaskus, hingga Baitul Maqdis.
Jatuhnya Baitul Maqdis menandai berakhirnya kekuasaan imperium Romawi Timur, Bizantium. Inilah yang menorehkan dendam kepada umat Kristiani. Ketika mereka menyaksikan Negara Khilafah di bawah Bani ‘Abbasiyyah lemah, mereka pun melancarkan Perang Salib yang berlangsung selama 2 abad. Saat itu, umat Islam di Syam dan Mesir bertempur menghadapi mereka bukan sebagai umat.


Meski begitu, mereka pun berhasil memenangkan perang itu. Setelah itu, wilayah ini pun disatukan kembali, ketika Shalahuddin al-Ayyubi memberikan bai’atnya kepada Khilafah ‘Abbasiyah.
Setelah orang-orang Kristen Eropa itu dikalahkan tentara kaum Muslim dalam Perang Salib, mereka pun harus menelan pil pahit, saat Konstantinopel jatuh ke tangan Muhammad al-Fatih tepat tanggal 20 Jumadil Ula 857 H/29 Mei 1453 H.
Masalah ini menjadi mimpi buruk bagi mereka, sehingga menjadi momok yang sangat mengerikan. Mereka menyebutnya dengan Mas’alah Syarqiyyah (masalah ketimuran). Sejak saat itu, mereka bekerja keras mencari kelemahan umat Islam, dan menunggu kesempatan untuk menghancurkan musuh mereka ini.
Kesempatan itu pun tiba, saat Khilafah ‘Utsmaniyyah lemah. Mereka mulai menyusun strategi. Dimulai dengan menyebarkan virus nasionalisme di dalam tubuh umat Islam, dan merekrut orang-orang fasik dengan iming-iming kekuasaan.
Pecahlah Revolusi Arab, yang berhasil memisahkan wilayah Arab dari Khilafah. Setelah itu, Perancis dan Inggeris pun melakukan invasi ke wilayah Arab. Wilayah ini, termasuk Syam, kemudian dijadikan sebagai Mandat Inggris dan Prancis. Mereka pun membagi wilayah ini di antara sesama mereka, dengan Perjanjian Sykes-Pycot.
Bukan hanya Syam yang dipecahbelah, tetapi seluruh wilayah Arab juga mereka bagi-bagi sesuai dengan kepentingan mereka.
Ketika Lord Allenby, komandan pasukan Inggeris, berhasil menduduki Palestina, tahun 1917 M, dengan tegas dia menyatakan, “Baru sekaranglah Perang Salib telah berakhir.”
Memang benar, tujuan Perang Salib adalah mengalahkan umat Islam, dan menghancurkan kekuatan mereka. Kekuatan umat ini, seperti kata Lord Curzon, Menlu Inggris saat itu, terletak pada Islam dan Khilafah. Maka, mega proyek mereka adalah menghancurkan Khilafah, dan menjauhkan Islam dari kehidupan umatnya.
Karena itu, ketika Islam telah kembali ke dalam pelukan umatnya, dan mereka membangun kembali mega proyek Khilafah, George Walker Bush, mengobarkan Perang Salib kembali. Dengan kedok Perang Melawan Terorisme, AS, Inggeris, Perancis, Rusia dan sekutunya mengobarkan Perang Salib melawan umat Islam.
Mereka pun berhasil mendapat dukungan dari para pengkhianat umat Islam. Namun, perang melawan terorisme ini pun menguras energi mereka. Perang dengan target untuk menundukkan umat Islam agar menjauhi agama mereka, dan meninggalkan mega proyek Khilafah ini ternyata gagal total.
Alih-alih ditinggalkan, justru tuntutan umat Islam untuk kembali kepada agama mereka semakin menguat. Demikian juga dengan mega proyek Khilafah. Jika awalnya hanya Hizbut Tahrir yang menyuarakan, kini mega proyek ini telah menjadi mega proyek umat Islam di seluruh dunia.
Karena itu, ketika Barat tengah bergelut dengan krisis ekonomi, Timur Tengah pun bangkit dengan Arab Spring yang telah berhasil menumbangkan boneka-boneka mereka, mereka pun sangat takut kembalinya Islam dan Khilafah di wilayah-wilayah ini.
Di Tunisia, Aljazair, Libya, Yaman, Mesir dan Bahrain berhasil mereka rem, dengan boneka-boneka yang dibenci rakyatnya, dengan boneka-boneka mereka yang lain, yang bisa diterima oleh rakyatnya. Api Arab Spring itu pun berhasil mereka padamkan.
Namun, di Suriah, kobaran api itu hingga kini tidak berhasil mereka padamkan. Maka, kini kobaran api Revolusi Islam di Suriah ini pun mereka hadapi bersama. Mereka pun tahu, jika Islam dan Khilafah kembali di Suriah, ini benar-benar akan mengakhiri kekuasaan mereka.


Mereka mendapat dukungan penuh dari antek-antek mereka. Turki, Iran, Libanon, Yordania, Irak, Mesir, Qatar, Saudi dan Israel, termasuk Hizbullah semuanya bahu-membahu, bekerja sama dengan Amerika, Inggris, Prancis, Rusia, Cina dan sekutu mereka untuk memadamkan api Revolusi ini. Berapapun harga yang harus mereka bayar.
Karena kembalinya Islam dan tegaknya Khilafah di Suriah benar-benar menjadi akhir dari sejarah mereka. Umat Islam di seluruh dunia pun menyambut bisyârah Nabi itu dengan gegap gempita.
Sementara para Mujahidin yang berjuang di Suriah, siang dan malam terus berjuang untuk mewujudkan bisyârah Nabi.
Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk mewujudkan bisyârah Nabi di tanah penuh berkah, yang dipenuhi oleh hamba-hamba Allah pilihan, Syam. Semua ini menandai “Kembalinya Suriah Bumi Khilafah yang Hilang.”
Perang Syam, Telah Ditakdirkan
Konflik yang terjadi di Mesir telah tertulis dalam Alquran. Ustaz Bachtiar Nasir mengatakan, tafsir ayat Alquran yang memprediksi konflik Mesir terdapat dalam Surat At-Tin ayat 1-3.
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota (Makkah) ini yang aman," tutur Bachtiar membacakan terjemahan Surat At-Tin ayat 1-3 beberapa waktu lalu.
Bachtiar berkata, tafsir dari surat tersebut adalah, "Demi bumi tin di Damaskus (Suriah), dan demi bumi zaitun di Palestina, dan demi bukit Thur yg ada di Sinai (Mesir). Dan demi kota Makkah yang aman."
Jika dilihat dari kacamata sederhana surat At-Tin, lanjutnya, maka konflik yang terjadi di Suriah, Palestina, dan Mesir, adalah perang global yang sudah Allah takdirkan. Perang itu, kata Bachtiar, bahkan melibatkan seluruh dunia.

Bachtiar meyakini, akhir dari konflik Mesir juga sudah termaktub dalam Surat Al-Qashshash ayat 5 yang menceritakan kisah Musa melawan Firaun.
"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)," bunyi terjemahan dari Surat Al-Qashshash ayat 5.
"Pada akhirnya di ayat itu digambarkan orang-orang yang dilemahkan nanti akan dikuatkan dan diwariskan kekuasaan di Mesir," tutup Bachtiar. Dikutip Harian The New York Times, Jumat (31/1/2014), Institute for Policy Analysis of Conflict mengungkapkan sebuah laporan bahwa, Perang jihad yang diyakini sebagai perang paling sakral itu akan berlangsung saat konflik di Suriah pada Maret nanti akan memasuki tahun ketiga. "Berdasarkan perhitungan ilmu akhirat (eschatology) pertempuran terakhir akan berlangsung di Syam. Kawasan Syam dikenal sebagai Suriah Raya yang meliputi Suriah, Yordania, Lebanon, Palestina dan Israel," tulis laporan lembaga tersebut.
Karenanya, Bachtiar mengatakan, persoalan Suriah, Mesir dan Palestina janganlah dianggap sebagai konflik politik. Sebab, jika melihat persoalan tersebut dari sisi politik saja maka hati akan terasa kosong.
Lebih dari itu, ia melihat Allah telah menyiapkan skenario besar dalam peristiwa ini.
Disadur: Penulis Samir Hijawi, Wartawan Jordania, Assyarq Qatar ACW

Rabu, 04 Desember 2013

Suriah, Awal Perang Akhir Zaman?

Webmaster23.50 0 comments
Oleh: Zulfahmi, MA
KONFLIK yang terjadi di Timur Tengah beberapa tahun lalu telah merambah hingga negeri yang di berkahi yaitu Syam. Banyak pakar analisis telah memberi analisa masing-masing terhadap konflik Suriah. Berbeda dengan Arab spring yang terjadi di negara-negara lain seperti Tunisia, Libya dan Mesir para pakar analisis secara gamblang menyimpulkan bahwa revolusi tersebut merupakan konspirasi Zionis untuk mengusai wilayah Timur Tengah.
Hal senada sebagaimana yang di jelaskan oleh pakar ilmu akhir zaman syekh Imran Hosein bahwa jihad yang dilakukan seperti Libya merupakan Jihad Zionis artinya jihad yang bertujuan untuk melaksanakan agenda Zionis di timur tengah. Pergantian rezim Muammar Khadafi yang beraliansi ke Rusia dan di gantikan dengan rezim yang beraliansi dengan zionis merupakan sebuah agenda untuk memuluskan jalan berdirinya Israel Raya yang merupakan proyek besar kaum Yahudi yang di kenal dengan the new world order.
Namun bagaimana yang terjadi di Suriah apakah konflik suriah juga merupakan agenda Zionis untuk mengusai Timur Tengah? Kita tidak bisa pungkiri bahwa awal konflik suriah merupakan revolusi yang di rancang oleh zionis yang bertujuan untuk pergantian rezim yang telah berkuasa selama puluhan tahun. Dan suriah tercatat sebagai sekutu dekat Rusia. Dilansir Russia Today, Jumat (06/09/2013), usai memastikan Obama membatalkan pertemuan empat mata, Presiden Putin mengatakan Rusia mungkin akan datang untuk membantu Suriah menyerang AS. “Pesan kami adalah, jika Anda menyerang sekutu kami, maka kami mungkin akan datang,” tegas Putin.
Sehingga tidak heran jika ada sebahagian ulama yang mengharamkan jihad di suriah, seperti Syehk Imran Hosein mengatakan bahwa jihad di Suriah hukumnya haram. Alasannya karena beliau menganggap sama seperti membantu zionis dalam menjalankan agendanya sebagaimana yang terjadi di Libya. Hal ini sebagaimana di jelaskan dalam buku The Geopolitics of Superpower karya Colin S. Gray, seorang Alford Machinder abad ke 19 sudah memberi isyarat bahwa Asia Tengah dan Timur Tengah merupakan Kawasan Heartland atau World Island. Sehingga siapa menguasai Heartland yang memiliki kandungan sumber daya alam dan aneka mineral, maka akan menuju Global Imperium. Matikan Timur Tengah, Anda mematikan Cina dan Rusia, maka Anda akan menguasai dunia.
Analisis yang mengatakan jihad di Suriah haram merupakan kesimpulan  yang sangat dangkal dan sangat terburu-buru. Konflik di Suriah tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja dan secara jelas telah nampak bahwa konflik suriah mempunyai banyak kepentingan. Di satu sisi Zionis menginginkan Suriah menjadi negara yang berpihak kepadanya dan menjadi sekutu di Timur Tengah seperti Saudi Arabia. Sedangkan Rusia mempunyai kepentingan untuk menjaga pangkalan milternya di Timur Tengah serta sebagai sumber cadangan minyak bagi negaranya.
Di lain sisi para Mujahidin juga mempunyai kepentingan terhadap konflik Suriah dengan menjadikan konflik Suriah tersebut sebagai awal penegakan khilafah Islamiyah di bumi Syam. Hal ini berdasarkan nubuat nabi bahwa akhir zaman kekutan umat Islam berada di Syam. Abu Darda berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesunguhnya kekuatan Muslimin pada waktu itu di Ghuthah, di samping kota yang bernama Damaskus yang paling terbaik di negeri Syam.” (HR. Abu Daud )
Persoalannya adalah bagaimana hukum kaum muslimin yang berjuang bersama-sama dengan pasukan yang beraliansi dengan barat (Eropa dan Amerika dan zionis) dengan tujuan yang sama untuk meruntuhkan rezim Bashar Asad, kemudian memiliki kepentingan yang berbeda, pasukan yang beraliansi dengan barat inign menerapkan sistem demokrasi setelah rezim Bashar Asad runtuh, sedangkan para mujahidin ingin menegakkan khilafah Islamiyah. Hal ini karena banyak hadis yang menjelaskan keutamaan negeri Syam. Dan darul Islam akan tegak kembali akhir zaman di Syam.
“Salamah bin Nufail berkata: aku datang menemui Nabi SAW dan berkata: aku bosan merawat kuda perang, aku meletakkan senjataku dan perang telah ditinggalkan para pengusungnya, tak ada lagi perang. Nabi SAW menjawab: Sekarang telah tiba saat berperang, akan selalu ada satu kelompok di tengah umatku yang unggul melawan musuh-musuhnya, Allah sesatkan hati-hati banyak kalangan untuk kemudian kelompok tersebut memerangi mereka, dan Allah akan memberi rizki dari mereka (berupa ghanimah) hingga datang keputusan Allah (Kiamat) dan mereka akan selalu demikian adanya. Ketahuilah, pusat negeri Islam adalah Syam. Kuda perang terpasang tali kekang di kepalanya (siap perang), dan itu membawa kebaikan hingga datangnya Kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Rasulullah SAW telah menubuatkan seribu empat ratus tahun yang lalu bahwa kaum muslimin akan berdamai dengan bangsa Rum. Rasulullah SAW bersabda : “Kamu akan berdamai dengan kaum Rum dalam keadaan aman, kemudian kamu dan mereka akan memerangi suatu musuh. Dan kamu akan mendapatkan kemenangan serta harta rampasan perang dengan selamat. Kemudian kamu berangkat sehingga sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit-bukit. Maka seorang laki-laki dari kaum salib mengangkat tanda salib seraya berkata, ‘Salib telah menang’. Maka marahlah seorang laki-laki dari kaum Muslimin kepadanya, lalu ia mendorongnya dan jatuh (meninggal). Pada waktu itu orang-orang Rum berkhianat, dan mereka berkumpul untuk memerangi kamu di bawah 80 bendera, dimana tiap-tiap bendera terdapat 12 ribu tentara.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
BERSAMBUNG

sumber : islampos.com

Membuka Pintu Rezeki

Webmaster21.53 0 comments
DR. Tajuddin Pogo, Lc. MH
Kebanyakan umat manusia sibuk mencari rizki dan berlomba meraih sebanyak-banyaknya kekayaan. Sehingga sebagian manusia lebih kaya daripada yang lain dan sebagian lagi ada yang hidup kekurangan dan miskin harta. Ketimpangan pendapatan dan jumlah kekayaan ini membuat sebagian orang walaupun beragama Islam putus asa dalam mengusahakan rizki. Bahkan ada sebagian yang menyangka bahwa berpegang dengan aturan Islam akan mengurangi rizki, sehingga halal dan haram tidak lagi menjadi perhatian dan tidak terlalu dipermasalahkan, karena yang penting mendapatkan jatah sebanyak-banyaknya dari kekayaan dan kenikmatan dunia.
Rizki adalah jaminan tanggungan Allah SWT, yang diberikan kepada setiap makhluk. Allah SWT telah menetapkan rizki bagi setiap manusia dan makhluk, sehingga tidak seorang pun dapat menghalanginya. Allah memberikan banyak jalan kepada setiap hamba-Nya untuk memperolehi rizki dalam berbagai bentuk kebaikan dunia dan akhirat. Allah telah menjamin rizki semua mahluk.  “Dan tidak ada makhluk bernyawa yang melata di permukaan bumi kecuali Allah lah yang menanggung rizkinya.” (Hud: 6).
Setiap muslim harus memahami, menyadari, dan berpegang teguh kepada syariat Allah dan menggunakan sebab-sebab yang sesuai dengan syariat agar Allah Yang Maha Pemberi Rizki memudahkannya mencapai jalan-jalan dan membuka pintu-pintu untuk mendapatkan rizki dari setiap arah dan meraih keberkahan rizki dari langit dan bumi.
Penyebab dan Pintu Rizki
Diantara sebab dan pintu rizki adalah istighfar (memohon ampunan) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: “taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa ditambal (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”.
Taubat merupakan perbuatan yang sangat disukai oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi saw bahwa Allah lebih senang terhadap taubat seorang hamba-Nya daripada senangnya seorang yang menemukan kembali hartanya yang hilang.” (HR. Muslim). Allah menceritakan Nabi Nuh tentang cara beliau menasehati umatnya agar meraih rizki yang berlimpah; “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12). Dalam fatwa ulama ditemukan anjuran untuk bertaubat dan beristighfar agar terbuka pintu rizki. Imam Al-Hasan Al-Bashri menganjurkan agar beristighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.
Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Pintu lain dari rizki adalah taqwa. Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan bahwa “taqwa adalah menjaga jiwa dari perbuatan dosa, yaitu dengan meninggalkan apa yang dilarang (Allah). Dan takwa itu lebih sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”. Allah berfirman yang artinya; “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).
Seiring dengan takwa, pintu lain dari rizki adalah bertawakkal kepada Allah. Imam Al-Ghazali berkata: “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada al-Wakil (Allah) semata.” Orang yang bertawakkal kepada Allah, pasti dicukupi segala kebutuhannya. Allah berfirman: “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiaptiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3). Dalam hadits dari Umar bin Khaththab dari Rasulullah bersabda: “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Muba-rak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi).
Tawakkal kepada Allah bukan berarti meninggalkan usaha. Dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya , ia berkata: “Seseorang berkata kepada Nabi , Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi bersabda: ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah’.” (Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim)
Kunci rizki yang lain adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya. Dalam hadits Qudsi dari Abu Hurairah , dari Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)’.” (Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Pintu rizki berikutnya adalah silaturrahim. Silaturrahim adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat dan upaya untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya. Makna “ar-rahim” adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ar-rahim” secara umum adalah para kerabat dekat, antara mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak.”  Dalam hadits dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturrahim”. (HR. Bukhari)
Dalam atsar dari Abu Bakrah dari Nabi bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya keta’atan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maskiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan keluarga yang saling bersilaturrahim tidak akan kekurangan.” (Imam Ibnu Hibban)
Infak di jalan Allah menjadi salah satu sebab dan pintu rizki. Dalam al-Qur’an disebutkan; “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya”. (Saba’: 39). Ganti dan balasan dari Allah hingga tujuh ratus kali lipat lebih. (Al-Baqarah : 261)
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda: “Ketika seorang laki-laki berada di suatu tanah lapang bumi ini, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Sira-milah kebun si fulan!’ Maka awan itu berarak menjauh dan menuangkan airnya di areal tanah yang penuh de-ngan batubatu hitam. Di sana ada aliran air yang me-nampung air tersebut. Lalu orang itu mengikuti kemana air itu mengalir. Tiba-tiba ia (melihat) seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya. Ia mendorong air tersebut dengan skopnya (ke dalam kebunnya). Kemudian ia bertanya, ‘Wahai hamba Allah! Siapa namamu?’ Ia menjawab, ‘Fulan’, yakni nama yang didengar di awan. Ia balik bertanya, “Wahai hamba Allah, kenapa engkau menanyakan namaku?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang menurunkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si fulan! Dan itu adalah namamu. Apa sesungguhnya yang engkau laku-kan?’ Ia menjawab, “Jika itu yang engkau tanyakan, maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku bersedekah dengan sepertiganya, dan aku makan beserta keluargaku sepertiganya lagi, kemudian aku kembalikan (untuk menanam lagi) sepertiganya’.”
Dalam hal ini yang lebih diprioritaskan adalah memberi infak kepada orang yang sepenuhnya menuntut ilmu syari’at (agama), apalagi ia juga fakir. Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Anas bin Malik bahwasanya ia berkata: “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah. Salah seorang daripadanya mendatangi Nabi dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu kepada Nabi maka beliau bersabda: “Mudah-mudahan engkau diberi rizki karena dia (kebaikanmu terhadapnya).” Tentang infak untuk orang yang lemah dan fakir, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Mush’ab bin Sa-’dan  dari Rasulullah bersabda:  “Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki (oleh Allah) lantaran orang-orang lemah di antara kalian?”
Ada lagi pembuka pintu-pintu rizki, yaitu menikah sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah swt : “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskan, Allah akan member kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah MAha Luas (pemberian-Nya), Lagi MAha Mengetahui.”(An-Nur:32)
Rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah akan menambahkan keridhaan Allah swt, sehingga Dia pasti menambahkan kenikmatan dan rizki. Allah berfirman: “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku atasmu, tetapi jika kalian kufur sesungguhnya Azabku sangat pedih.” ( Ibrahim: 7).
Dalam lingkup ikhtiyar dan usaha,pintu rizki akan lebih terbuka bagi orang yang bersegera di waktu pagi hari dalam mencari penghasilan dan rizki, sebagaimana isyarat dari doa Nabi saw untuk umatnya:  “Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
                Semoga Allah memberkahi kita dan umat Islam dengan keberkahan rizki dari segala penjuru langit dan bumi, sehingga menjadi mulia dan memimpin umat manusia dalam keimanan dan kebaikan. Amin.

sumber : ikadi.or.id

Senin, 02 Desember 2013

Siapa yang tahu maksud Allah?

Webmaster21.53 0 comments
Rasulullah pada suatu waktu pernah berkisah. Pada zaman sebelum kalian, pernah ada seorang raja yang amat dzalim. Hampir setiap orang pernah merasakan kezalimannya itu. Pada suatu ketika, raja zalim ini tertimpa penyakit yang sangat berat. Maka seluruh tabib yang ada pada kerajaan itu dikumpulkan. Dibawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkannya.
Hingga akhirnya ada seorang Rahib yang mengatakan bahwa penyakit sang raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan tertentu, yang sayangnya saat ini bukanlah musimnya ikan itu muncul ke permukaan. Betapa gembiranya raja mendengar kabar ini. Meskipun raja menyadari bahwa saat ini bukanlah musim ikan itu muncul kepermukaan namun disuruhnya juga semua orang untuk mencari ikan itu. Aneh bin ajaib walaupun belum musimnya, ternyata ikan itu sangatlah mudah ditemukan. Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.
Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal kebijakannya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Dan ternyata kesimpulan para tabib sama, yaitu obatnya adalah sejenis ikan tertentu yang saat ini sangat banyak terdapat di permukaan laut. Karena itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali.
Tapi apa yang terjadi? Ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satu pun yang nampak..! Walaupun pihak kerajaan telah mengirimkan para ahli selamnya, tetap saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun meninggal…
Dikisahkan para malaikat pun kebingungan dengan kejadian itu. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau menggiring ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja yang zalim itu selamat; sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?”
Tuhan pun berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Karena itu Aku balas kebaikannya itu didunia, sehingga pada waktu dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang dibawanya. Dan Aku akan tempatkan ia pada neraka yang paling bawah !
Sementara raja yang baik itu pernah berbuat salah kepada-Ku, karena itu Aku hukum dia didunia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, karena hukuman atas dosanya telah Kutunaikan seluruhnya di dunia!”
Kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah bersayap ini.
Pelajaran pertama adalah: Ada kesalahan yang hukumannya langsung ditunaikan Allah di dunia ini juga; sehingga dengan demikian di akhirat nanti dosa itu tidak diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan hal ini dapat menguatkan iman kita bila sedang tertimpa musibah.
Pelajaran kedua adalah: Bila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Jangan-jangan Allah ‘menghabiskan’ tabungan kebaikan kita. Keyakinan akan hal ini dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengan lezatnya kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi.
Pelajaran ketiga adalah: Musibah yang menimpa seseorang belum tentu karena orang itu telah berbuat kekeliruan. Keyakinan ini akan dapat mencegah kita untuk tidak berprasangka buruk menyalahkannya, justru yang timbul adalah keinginan untuk membantu meringankan penderitaannya.
Pelajaran keempat adalah: Siapa yang tahu maksud Allah?
sumber: btm3.wordpress.com

Cermin Diri

Webmaster21.47 0 comments
Pada suatu masa, ada seorang pria kaya raya berpesan kepada pembantunya, “Aku akan pergi ke luar negeri selama setahun untuk urusan bisnis. Selama aku pergi aku minta kau membangun sebuah rumah. Pilihlah bentuk dan desainnya sesuai kehendakmu. Besar atau kecil terserah kau. Ini aku kasih uang untuk membeli bahan bangunan, o­ngkos kerja tukang, serta gajimu selama membangun rumah tersebut.”Seminggu kemudian berangkatlah sang majikan ke luar negeri. Alangkah senangnya si pembantu mendapat proyek basah. Seumur-umur ia belum pernah mengelola uang sebanyak ini. Otak liciknya segera berputar. Selama mengerjakan tugas, si pembantu menggelapkan nilai proyek. Caranya, mark-up sana, sunat sini. Ia memakai bahan-bahan bangunan yang sepintas terlihat bagus padahal kualitasnya jelek. “Toh nantinya pada saat rumah ini mulai rusak, saya pasti tak lagi bekerja disini” begitu pikirnya.
Setahun kemudian sang majikan pulang. Ia menanyakan rumah baru tersebut.
“Beres Tuan! Segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Rumah sudah siap ditempati,” kata si pembantu dengan bangga.
“Baik. Nah, apakah kamu sendiri merasa puas sengan hasil karyamu?” sang majikan bertanya.
“Oh, ya tentu saja Tuan,” jawab si pembantu.
“Baik, kalau begitu,” jawab sang majikan, “Ketahuilah, aku menyuruh kau membangun rumah ini adalah untuk kenang-kenangan sekaligus penghargaan atas pengabdianmu bekerja disini bertahun-tahun.”
Mendengar ucapan sang majikan, kagetlah si pembantu. Perasaannya campur aduk. Ia merasa sangat malu dan cemas. Betapa tidak? Ia telah menghambur-hamburkan uang hasil korupsinya. Kini justru ia harus bertanggung jawab atas rumah yang selamanya akan mengingatkannya pada tindak korupsi yang mencoreng integritas dan pribadinya.
Cara terbaik untuk menentukan jenis karakter seseorang adalah dengan memberi kesempatan mereka menunjukkan tingkah laku mental dan moralnya saat mereka merasa sangat aktif dan benar-benar menikmati hidup. Karena pada saat itu pasti ada suara di dalam hati kecilnya yang mengatakan, “Inilah saya yang sebenarnya…”
sumber : btm3.wordpress.com